Akademik

Kompetensi Lulusan Program Studi D3 Farmasi Akademi Farmasi Toraja

Kompetensi

Uraian

Pelaksana Pelayanan Kesehatan masyarakat (communicty pharmaceutical) di apotik, rumah sakit, dan puskesmas, klinik atau balai pengobatan

Berkomunikasi dengan pasien mengenai obat/alat kesehatan yang mereka terima. Identifikasi resep yang diberikan oleh dokter,merencanakan dan menyiapkan/meracik  obat-obatan yang tertulis dalam resep  menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Hal lainnya dapat berupa merencanakan, meracik, menyiapkan dan menyerahkan perbekalan kefarmasian, melakukan konsultasi dan memberikan informasi tentang obat-obatan. Mengupayakan obat yang bekerja spesifik, relatif aman yang dapat meringankan penderitaan akibat penyakit,

Pelaksana tatakelola obat obat di sarana (alat kesehatan) pelayanan kesehatan baik  pemerintah maupun swasta (Quality-safety-efficacy)

Keahlian dalam pencatatan dan pelaporan obat, menerapkan aturan penyimpanan obat di unit pelayanan kesehatan, mengidentifikasi macam-macam jenis alat kesehatan (alkes) dan kegunaannya, menjelaskan cara penyimpanan dan perawatan alkes. Berbagai permasalahan yang sering timbul terutama pada sarana pelayanan kesehatan pemerintah seperti puskesmas dan rumah sakit yaitu stok obat-obatan yang tidak memadai, ketidaksesuaian kebutuhan dan obat-obatan yang dipasok, obat-obat/alkes banyak yang expire/rusak seperti yang terjadi di Dinkes Sulawesi Selatan. Masalah ini timbul karena pengelolaan obat yang belum maksimal karena masih terbatasnya tenaga farmasi.

Pelaksana produksi sediaan Farmasi di Industri Farmasi

Pengetahuan dan kemampuan melaksanakan proses produksi sediaan farmasi yaitu: menyiapkan alat, menyiapkan bahan baku, melaksanakan pencampuran bahan baku sesuai dengan cara produksi obat yang baik, melaksanakan dan mengevaluasi pengemasan serta melaksanakan dan menerapkan aturan penyimpanan Industri Farmasi  harus membuat obat secara benar agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, tidak menimbulkan resiko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah dan tidak efektif. Peran ini mecakup proses Good Manufacturing Practices dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan produksi, sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya (BPOM 2009).   

Pelaksana distribusi dan pemasaran sediaan farmasi pada Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan Gudang Farmasi Kabupaten

Keahlian dalam mengidentifikasi jenis dan sedian farmasi, mengidentifikasi teknik penyimpanan dan pendistribusian, menjelaskan perundang-undangan dan peraturan yang terkait, menjelaskan organisasi dan tata laksana pendistribusian dan memberikan informasi sediaan farmasi dengan baik dan benar.                                                                                                                                     Peran ini akan diambil alih oleh calon lulusan yang akan memiliki peranan yang sangat penting dalam rantai distribusi obat guna tersedianya kebutuhan sediaan farmasi di semua pelayanan kesehatan baik swasta dan pemerintah.

Pengembangan produk seperti perencanaan produk baru, inovasi, riset dan percobaan serta pembuatan laporan

Peran ini dapat dijumpai pada Balitbang baik untuk produk kimia maupun produk bahan alam. Dalam Melaksanakan kegiatan pengumpulan dan pengolahan data untuk penelitian, farmasis memiliki tanggung jawab dalam memilih metode dan teknik penelitian, memilih cara pengumpulan data, melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data serta menyajikan data dan menyusun laporan. Mahasiswa progam studi akan dibekali berbagai jenis produk farmasi baru  yang beredar guna memberikan wawasan perkembangan dan pemanfaatan bahan alam (farmakologi) dalam konsep back to naturedan herbalisasi. Pemberian sumbangan untuk mengungkapkan mekanisme terinci dari fungsi normal dan fungsi abnormal organisme.

Penyuluh dan sumber informasi kesehatan

Keahlian mencakup kegiatan mengidentifikasi kebutuhan, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi kegiatan penyuluhan dan mengidentifikasi kebutuhan alat  peraga serta membuat dan menggunakan alat peraga. Tugas seperti ini dapat dijumpai pada instansi pemerintahan seperti dinas kesehatan kabupaten dan provinsi, Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan. Sebagai  sumber informasi obat-obatan harus dapat membantu masyarakat dalam pemberian informasi yang benar tentang obat-obatan seperti penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Mampu menciptakan dan mendeteksi sedini mungkin kelaian fungsional pada manusia. Menggali dan mengembangkan sumber alam Indonesia yang dapat diperbaharui.