Rantepao/Makale — Akademi Farmasi Toraja mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi obat herbal dan pameran produk Laboratorium Obat Tradisional pada dua momen Car Free Day berbeda, yakni 7 Februari 2026 di Car Free Day Rantepao dan 14 Februari 2026 di Car Free Day Makale. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen akademi untuk mendekatkan pengetahuan kefarmasian tradisional kepada masyarakat sekaligus memperkenalkan hasil penelitian dan produksi ramuan herbal yang dikembangkan oleh laboratorium kampus.
Kegiatan edukasi dirancang interaktif dan mudah dipahami, menyasar berbagai kalangan pengunjung Car Free Day, dari remaja hingga orang tua. Tim pengabdian, yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Program Studi Farmasi, memberikan penjelasan mengenai pengertian obat herbal, perbedaan antara jamu, obat tradisional, dan suplemen, serta pentingnya penggunaan obat herbal yang aman dan berbasis bukti. Materi juga menekankan pentingnya membaca label, aturan pakai, dan potensi interaksi obat herbal dengan obat kimia.
Selain edukasi, pameran menampilkan berbagai produk hasil karya Laboratorium Obat Tradisional Akademi Farmasi Toraja. Produk yang dipamerkan mencakup teh herbal fungsional, ramuan tradisional siap pakai, serta produk inovatif berupa minuman booster imun. Setiap produk disertai papan informasi yang menjelaskan kandungan bahan, manfaat yang diharapkan, cara penyajian, dan langkah pencegahan bagi kelompok yang berisiko seperti ibu hamil dan penderita penyakit kronis.
Untuk menarik minat dan memberi manfaat langsung kepada masyarakat, panitia menyediakan layanan cuma-cuma selama acara. Layanan tersebut meliputi cek tekanan darah gratis, penyajian sampel minuman teh herbal, dan pemberian minuman booster imun gratis. Layanan cek tekanan darah ini dioperasikan oleh mahasiswa yang didampingi dosen, sehingga hasil pemeriksaan disertai edukasi singkat tentang arti nilai tekanan darah dan saran rujukan jika diperlukan.
Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk praktik pengabdian kepada masyarakat dan komunikasi kesehatan. Mahasiswa berperan langsung sebagai penyuluh, demonstrator pembuatan teh herbal, dan petugas perekaman hasil cek tekanan darah. Pengalaman lapangan ini dinilai penting untuk melatih kemampuan komunikasi ilmiah mahasiswa, memahami kebutuhan kesehatan masyarakat setempat, serta mengasah keterampilan teknis dalam penyusunan, penyajian, dan pengemasan produk obat tradisional.
Pihak Akademi Farmasi Toraja menyampaikan harapan bahwa kegiatan ini dapat meningkatkan literasi obat herbal di kalangan masyarakat, mendorong penggunaan produk tradisional yang aman dan bertanggung jawab, serta membuka peluang kerja sama dengan komunitas lokal untuk pengembangan tanaman obat. Dukungan dan antusiasme pengunjung selama dua rangkaian Car Free Day menjadi indikator bahwa inisiatif serupa patut terus dilanjutkan dan dikembangkan.
Sebagai tindak lanjut, Akademi Farmasi Toraja berencana mengumpulkan umpan balik dari masyarakat dan melakukan evaluasi produk untuk peningkatan mutu. Selain itu, kampus membuka kesempatan konsultasi lebih lanjut dan kunjungan laboratorium bagi kelompok masyarakat atau pelaku usaha lokal yang tertarik menjalin kemitraan pengembangan obat tradisional berbasis kearifan lokal Toraja.
